Baby Walker, Yay or Nay?

Sebelum masa-masa Gavin belajar berjalan seperti sekarang ini, saya sudah mulai cari info tentang alat bantu yang dapat saya gunakan (selain dengan cara dititah tentunya). Kalau mengikuti cara dari orangtua, pastilah Baby Walker yang disarankan. Tapi, benarkah Baby Walker membantu anak belajar berjalan? Setelah saya cari tau, termasuk konsul ke DSA, ternyata justru penggunaan Baby Walker sangat tidak disarankan.

Beberapa hal negatif mengenai penggunaan Baby Walker yang saya rangkum dari beberapa sumber :

πŸ¦„ Penggunaan Baby Walker dapat menyebabkan bahaya bagi anak.
Laporan dari American Academy of Pediatrics tahun 2001 mengatakan bahwa pada tahun 1999 diperkirakan sebanyak 8800 anak usia dibawah 15 bulan dibawa ke rumah sakit bagian gawat darurat karena kecelakaan akibat baby walker. Dari tahun 1973 sampai 1998 dilaporkan sebanyak 34 bayi meninggal akibat kecelakaan baby walker yang kebanyakan karena jatuh dan cedera kepala. Mengapa berbahaya? Baby walker menjadikan bayi lebih tinggi, yang memungkinkan bayi mencapai barang-barang yang letaknya tinggi. Baby Walker juga membuat bayi lebih mudah bergerak. Bayi dapat bergerak sepanjang ruangan dan dapat meraih benda-benda yang berbahaya, katakanlah pisau di atas meja atau kabel listrik di dinding atau bahkan jatuh dari tangga.

πŸ¦„ Baby Walker merupakan salah satu penyebab anak jadi lambat berjalan.
Baby walker merupakan alat yang bisa digunakan oleh bayi yang belum bisa berjalan untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Baby walker bukan alat bantu bayi belajar berjalan dan tidak membuat bayi lebih cepat berjalan, baby walker hanya mempermudah bayi untuk berjalan dan bergeser kesana kemari. Di dalam baby walker, kaki bayi biasanya agak menggantung dan hanya sedikit menyentuh lantai, bayi tidak perlu menjejakkan kakinya untuk berjalan, cukup dengan mengayun dan alatnya akan membantu bayi bergerak. Hal ini membuat bayi jadi malas dan tidak termotivasi belajar berjalan dengan kedua kakinya sendiri karena dengan baby walkernya ia sudah bisa bereksplorasi tanpa perlu bersusah payah. Selain itu, berjalan dengan baby walker hanya akan memperkuat kedua tungkai bawah, sedangkan kekuatan tungkai atas (paha) dan pinggul yang sangat dibutuhkan untuk berjalan menjadi tidak terlatih. Penggunaan baby walker untuk bayi juga membuatnya tidak bisa melihat kakinya sehingga bayi tidak belajar cara menyeimbangkan tubuh dan berjalan dengan cara yang salah (ditopang ujung jari kakinya bukan dengan telapak kakinya).

πŸ¦„ Adanya potensi kelainan fisik pada anak.
Contohnya dada datar, paru-paru terhambat, perubahan bentuk tulang punggung dan cacat kaki, seringkali diakibatkan penggunaan baby walker untuk bayi. Hal ini dikarenakan tulang pada bayi masih lunak dan lentur dan jika dipakaikan alat-alat bantu tersebut agar bisa menopang berat tubuhnya pada usia terlalu dini akan berakibat seperti sebatang tongkat elastis yang tertekuk oleh beban, menjadi melengkung dan berubah bentuk.

Penggunaan Baby Walker mungkin bisa bermanfaat bagi Mommies yang tidak punya bantuan di rumah, sehingga dengan menempatkan bayi di dalamnya, Mommies bisa melakukan aktivitas lain. Namun hendaknya penggunaannya tetap dalam pengawasan. Baby Walker bukan penjaga bayi. Semuanya balik lagi ke pilihan Mommies masing-masing yah. Saya pribadi, setelah konsul dengan DSA plus beberapa point tersebut di atas, saya memang bertekad tidak menggunakan Baby Walker untuk membantu Gavin belajar berjalan. Daripada menggunakan Baby Walker, lebih disarankan menggunakan mainan dorong dengan penopang / Push Walker, jadi itulah yang dimiliki oleh Gavin saat ini. Meskipun Gavin masih agak malas untuk menggunakannya, gapapa, saya tetap menyemangati Gavin agar memakainya paling tidak sehari sekali. Saya percaya, semua ada waktunya, jadi kudu sabar aja 😊πŸ’ͺπŸ»πŸ™πŸ» semoga bermanfaat, Moms 😊

@valentcindy

“everything will be set on His time”

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *