Anakku Tidak Nakal

“Nakal” adalah kata yang sangat saya hindari untuk digunakan kepada Gavin. Sejak ia masih bayi sampai dengan sekarang, saya tidak pernah bilang, “Gavin kamu nakal,” atau “Nakal yah,” seaktif apapun dia atau segimananya pun dia bikin saya merasa kesal.

Saya selalu percaya, setiap kata atau kalimat yang kita ucapkan kepada anak, baik dia belum mengerti maupun sudah, tetap akan terekam dalam memori dia. Selain itu, saya juga percaya, perkataan orangtua adalah doa bagi anaknya. Jadi kalau misalnya saya sering gunakan kata “nakal” kepada Gavin, maka jadilah ia nakal. Ia akan tumbuh dan mempercayai bahwa dirinya memang anak nakal. Dia akan berpikir, “Oh, saya memang nakal yah.” Jadi sejak awal saya dan suami memang sepakat, tidak akan pernah bilang Gavin itu nakal.

Tantangan tersulit adalah dari orang sekitar, terutama orangtua / mertua. Karenanya, setiap saya mendengar orangtua saya menyebut kalimat, “Kamu nakal yah,” maka saya akan langsung meluruskannya agar didengar pula oleh Gavin, “Gavin ga nakal, Akong, Gavin aktif,” atau “Gavin ga nakal, Amah, Gavin mau tau aja.” Dan kemudian saya akan mengingatkan mereka untuk tidak menggunakan kata tersebut. Sama halnya dengan mertua, saya akan minta tolong suami juga untuk mengingatkan mereka. Kalau orang lain yang mengucapkan bagaimana? Saya akan berlaku sama dalam meluruskan kalimatnya pada saat itu juga.

Menurut saya, kepribadian anak akan terbentuk dari bagaimana cara kita memperlakukannya dan berkata-kata kepadanya. Dengan berkata dan memperlakukannya sebagai anak nakal, sama dengan meng-afirmasi dirinya memang nakal. Jadi saya lebih sering menggunakan, “Gavin anak baik yah, Gavin anak pintar.” Itu adalah doa saya untuknya.

@valentcindy

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *