Berempati kepada Anak

Tidak ada rasa sakit atau rasa sedih yang terlalu kecil untuk diperhatikan. Itu prinsip saya dalam menghadapi Gavin. Sometimes kita mungkin ga sengaja menyepelekan rasa sakit atau kesedihan anak. Jatuh terantuk sedikit, anak nangis, lalu kita bilang, “Ah gitu doank, jangan nangis donk.” Atau ditambah dengan kalimat, “Kamu kan cowo.” Mungkin kita berpikir, “Masa segitu doank sakit sih.” Padahal yang dirasakan anak mungkinlah berbeda.

Memang, bisa jadi sesekali anak me-“lebay”-kan rasa sakitnya untuk mencari perhatian, namun kalau saya, saya tetap memilih untuk berempati pada anak. Karena apa? Karena dengan saya berempati padanya akan memberikan contoh pada anak untuk belajar berempati pula kepada orang lain.

Jadi balik ke prinsip di atas, tidak ada rasa sakit atau rasa sedih yang terlalu kecil untuk diperhatikan. Mungkin bagi kita hal tersebut tidak menyakitkan atau tidak perlu sesedih itu, tapi perasaan tiap orang kan berbeda yah, apalagi anak-anak.

Gavin sebenarnya termasuk anak yang ambang batas sakitnya tinggi, jadi kalau dia sudah nangis karena terjatuh atau kepalanya terbentur misalnya, artinya memang benar-benar sakit yang dia rasakan. Biasanya saya akan menunjukkan empati padanya dengan menempatkan diri saya pada posisi ia pula dan berkata, “Iya Mommy tau sakit yah,” sambil memeluknya. Dan dilanjutkan dengan memberitahunya agar dapat berhati-hati di lain kali.

Dengan belajar berempati, anak akan tumbuh menjadi anak yang peduli pada orang lain dan belajar pula untuk memahami perasaan orang lain. Ini adalah bekal penting baginya dalam hidup bermasyarakat kelak.

@valentcindy

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *