Aku, Suami & Mertua

Ga tau mau kasih judul apa, jadi begitulah saja, hahaha. Ini topik yang benernya paling aku hindari untuk dibahas, karena menurutku topik yang sensitif dan complicated kan, tapi berhubung beberapa hari lalu pas nge-post satu artikel beberapa nanyain lagi tentang hal ini, baiklah aku share dari pemikiranku aja yah.

Waktu pacaran, aku dan suami sepakat dan sepemikiran bahwa mau nikah itu ga segampang, “Aku cinta kamu, kamu cinta aku, yuk kita nikah,” ga gitu. Karena bagi kita, yang menikah bukan cuma kita berdua, tapi kedua keluarga kita loh. Jadi dari pacaran, bahkan kemudian proses lamaran resmi ke orangtua sampai ke hari nikahnya itu cukup lama. Karena memang butuh kesiapan hati, mental, fisik, plus materi, hahaha.

Sejak saat resmi lamaran / tunangan pun, otomatis ortu suami yah jadi ortu kita kan, ortu kita jadi ortu suami. Trus, gimana tuh setelah punya anak dan pada umumnya mertua pun ikut ingin terlibat dalam pengasuhan anak?

Nah, balik lagi neh ke paling atas, aku benernya agak susah berkomentar karena aku ga tinggal serumah bareng mertua maupun ortuku sendiri. Kita tinggal terpisah, beda daerah bahkan beda pulau. Jadi aku bebas untuk mengasuh anakku dengan gayaku sendiri. Tapi, kadang mertua kan datang berkunjung yah, gimana tuh?

Pertama, puji Tuhan aku punya mertua yang baik dan menghormati keputusan anak dan menantunya. Jadi memang sejak Gavin lahir, ga pernah sekalipun mertuaku ikut campur dalam pengasuhan anak. Kasih saran dalam hal-hal tertentu pasti ada donk, dan namanya saran tentulah aku terima dengan baik. Masalah bisa diterapkan atau tidak, kita sesuaikan dengan kondisi yah.

Begitu pun kalau mertua lagi datang kesini, mereka juga menghargai apa saja yang aku terapkan untuk Gavin. Hal kecil misalnya kayak mau kasih makanan apa ke Gavin, yah pasti nanya dulu boleh apa ngga. Jadi, aku consider aku beruntung yah ada dalam kondisi seperti ini.

Yang kedua, sejak awal pun aku ada kesepakatan tidak tertulis sama suami dalam hal pengasuhan anak. Misalnya dalam case A nanti kita begini yah, untuk case B ga boleh yah, dst. Dan kita kompak, kalau ada yang sekiranya kurang cocok, kita omongin. Kalau ada pas kejadian ada yang aku kurang suka dari cara suami atau sebaliknya, kita bahas juga.

Contohnya suami ga sengaja ngomong kalimat A, nanti aku akan kasih tau dia bahwa ga boleh ngomong kayak gitu lagi karena bla bla bla, aku kasih penjelasan. Jadi ke depannya enak, apapun yang berhubungan sama anak, kita sudah sepakat.

Otomatis, hal ini pun berlaku terhadap orang tuanya sendiri kan alias mertuaku. Contoh lagi yah, mertua ga sengaja bilang, “Gavin nakal.” Ga usah aku ingetin lagi, suamiku sendiri otomatis sudah pasti ingetin ortunya, “Gavin ga nakal, ga boleh bilang Gavin nakal, Ma, Gavin aktif.” Jadi, yang handle mertuaku adalah anaknya sendiri.

Menurutku, ini lebih baik. Kadang sebagai menantu kita kan agak sungkan buat kasih tau ke mertua, nah disinilah peran suami untuk support istrinya. Kalau ada yang mengganjal di hati tentang mertua dan bingung ngomongnya, yah diskusi sama suami, info ke suami, cari solusinya. Kalau bagi aku, gimanapun mertua yah tetap orang tua kita juga, orang tua suami kita. Jadi tetap perlu dihormati sama seperti suami kita menghormati mereka.

Jadi gimana supaya komunikasi dengan mertua bisa lancar? Yah menurutku kunci utamanya adalah punya komunikasi yang baik dulu dengan suami. Perlu kompak dengan suami, perlu ada kesepakatan dengan suami, perlu saling pengertian dan yang paling penting perlu kebesaran hati masing-masing.

Anyway sekali lagi, aku tinggal dalam kondisi yang mungkin sangat berbeda dengan Moms sekalian, jadi aku hanya bisa share pendapatku berdasarkan kondisi aku saat ini. Apapun yang terjadi hari ini, semangatttt Mommies 🙂

@valentcindy

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *