Jadi Sebenarnya, Pada Siapakah Kamu Marah?

Aku seperti menguasai kesabaran level baru belakangan ini. Di samping aku memang masih terus jalani Kalender “Detoks Marah”-ku (aku malah belum sharing detail tentang ini) dengan “kesabaran level baru” ini, rasanya semua jauhhh lebih mudah.

Awalnya di Kamis 1 bulanan yang lalu, aku marah lagi sama Gavin karena suatu hal. Dan memang rasanya beberapa hari sebelumnya aku juga beberapa kali marah dan sering banget ngoceh-ngoceh. Siangnya aku juga agak memaksa dia melakukan sesuatu yang dia ga suka. Malamnya saat dia sudah tidur, seperti biasa semua penyesalan itu datang.

Aku pandang wajah dia, lalu aku mikir kenapa aku kok marah sama dia, maksa dia, Ibu macam apa sih aku ini. Kemudian aku sadar dan ingat akan apa yang aku pelajari di Parenting Workshop bersama @positive.parenting.challenge tanggal 14 Desember yang lalu. Aku cari tau ke dalam diriku sendiri apa sih penyebab aku marah belakangan ini.

Sama persis seperti yang aku dapatkan di workshop, ternyata penyebabnya memang ada di dalam diriku sendiri. Aku cerita kan kalau aku sakit pinggang. Dan itu benar-benar bikin stress. Mau ngapa-ngapain sakit, ga enak. Tadinya aku berharap setelah masa mual berlalu, segalanya akan membaik dengan kondisi kehamilanku. Eh malah kena sakit pinggang yang sangat mengganggu.

Aku marah, sedih, kesal, stress, dengan diri sendiri dan keadaanku, tapi aku ga tau mesti gimana. Akibatnya, aku jadi sensi banget dan gampang marah-marah. Gavin lah yang kena getahnya. Uhhh, kasian banget ga sih anakku.

Jadi, Moms, pada saat kita marah pada anak, coba kita cek kembali ke dalam diri kita, sebenarnya kita itu marah pada siapa? Sungguhkah pada anak kita? Yang sebenarnya mungkin belum sungguh-sungguh mengerti apa mau kita, apa maksud perkataan kita. Dari apa yang aku dapatkan di workshop, ternyata sampai berusia 7 tahun itu anak belum sungguh-sungguh mengerti / paham tentang konsep.

Kadang kita gregetan banget, ihhh sudah dikasih tau berkali-kali masih saja tidak mengerti, lalu marahlah kita. Padahal, bisa saja memang mereka ga ngerti, karena kita menyampaikan dengan bahasa kita, bukan dengan “bahasa” anak-anak.

Sejak hari Kamis itu, aku sungguh berusaha lebih sabar lagi. Dan entah bagaimana caranya, setiap suaraku mulai meninggi sedikit, seperti ada suara kecil pula di kepalaku yang berkata, “Pelankan suaramu,” atau “Ingat, jangan marah.” Dan aku pun menurunkan nada suaraku kembali. Atau setiap rasanya kesal, sungguh selalu diingatkan oleh suara kecil di kepalaku itu, aku tarik nafas panjang, dan kesalku pun mereda.

Dan ini sudah masuk hari ke-19 sejak aku punya “suara kecil” di kepalaku. Rasanya, hidupku jauhhh lebih mudah. Aku bisa jalanin Kalender “Detoks Marah”-ku juga dengan lebih baik. Di setiap kejadian yang kelihatannya Gavin berulah pun, aku mulai bisa mengira-ngira, “Oh mungkin dia melakukannya karena ini, karena itu,” dan ini bikin emosiku lebih mudah dikontrol. Semoga “suara kecil” itu akan selalu bantu aku yah, hihi.

So, sekali lagi, aku mau ajak Mommies juga cek ke dalam dirinya masing-masing, ketika kita marah, sebenarnya kita marah pada siapa? Pada anak kah? Atau sebenarnya pada diri kita sendiri? Pada keadaan kita? Dan jangan-jangan, penyebab anak kelihatan berulah, rewel, ga bisa diam itu, apakah memang anaknya begitu, atau sebenarnya dia hanya mencari perhatian dari Ibunya yang terlihat gusar, cemberut, stress dan tidak happy? Karena percayalah, anak akan merasakan apa yang Ibunya rasakan.

@valentcindy

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *