Kalender “Detoks Marah”

Pertama kalinya aku mulai menggunakan “Kalender Detoks Marah” ini di hari yang sama ketika aku tau aku hamil anak kedua. Seperti yang pernah aku share, saat tau aku hamil, aku senang, tapi ketika kemudian aku memandang wajah Gavin yang sedang tidur, aku menangis. Menangis karena aku merasa belum jadi Ibu yang cukup baik baginya, masih sering marah-marah, lalu tiba-tiba sekarang dia akan punya adik.

Jadi sejak hari itu aku berjanji untuk berusaha lebih baik lagi, berusaha memahami Gavin, berusaha untuk ga marah-marah lagi, berusaha menggunakan waktu bersama kami selama 9 bulan dengan sebaik-baiknya sebelum adiknya lahir. Karenanya, aku mulai menggunakan “Kalender Detoks Marah”, sebuah istilah yang aku buat sendiri.

Aku sering baca, ada sebagian orang yang melakukan detoks supaya hidupnya lebih sehat. Jadi kenapa tidak melakukan detoks marah juga supaya secara mentally hidup kita, terutama sebagai Ibu, lebih baik. Aku download aplikasi kalender yang bisa dikasih tanda dan aku mulai perjalanan “Detoks Marah” itu yang masih berlangsung hingga hari ini.

Cara aku menggunakan kalender ini yaitu :

  • Tanda ✔️untuk menandai hari-hari dimana aku berhasil menahan emosi ataupun tidak marah pada Gavin. Tanda ❌ untuk menandai hari dimana aku gagal untuk belajar lebih sabar dan akhirnya malah marah-marah sama anakku.
  • Kalau hari itu berakhir dengan tanda ❌, maka biasanya aku akan instropeksi diri sendiri, kenapa sih hari ini aku marah sama Gavin, apa yang bikin aku kehilangan kesabaranku, supaya besok aku bisa lebih baik lagi.

Seperti yang Moms lihat, “raport”-ku ga semuanya bagus yah, masih ada nilai merahnya, tapi bagiku ini adalah kemajuan. Dan somehow, kalender ini jadi reminder buat aku di kala aku lagi mau marah. Kalender ini mengingatkan aku agar jangan sampai dapat nilai merah hari ini. Dan dengan adanya pengingat seperti ini, it helps me to be a better person.

Emang salah yah marah sama anak? Yah ga salah, namanya juga manusia kan, wajar kalau marah. Jadi kalau masih ada nilai merah, masih sesekali “kepeleset”, menurutku wajar. Tapi kalau keterusan gimana? Aku ga mau karena aku marah-marah terus jadi membuat anakku kehilangan kepercayaan pada diriku ataupun kelak jadi ada jarak di antara kami.

Yah, sekarang dia masih kecil, dia masih butuh dan bergantung sama aku, tapi kelak, ketika ia lebih mandiri, ketika ia telah bisa mengambil keputusan, akankan ia tetap melihatku sebagai sosok Ibu yang ia respect jika aku terus-menerus marah padanya dan meninggalkan luka yang dalam di hatinya? Ini, adalah renungan buat kita semua 🙂

@valentcindy

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *